Impian Vs Realitas

Semua wanita pasti punya impian dengan cara apa kelak mereka akan menikah. Begitupun dengan saya, saya juga punya keinginan dalam benak saya konsep hari pernikahan saya kelak seperti apa. Impian-impian itu begitu banyak dan membuat saya cukup terobsesi untuk mewujudkannya. Tapi, ternyata Tuhan membukakan mata saya bahwa impian kadang berbanding terbalik dengan kenyataan. Meskipun saya belum melaksanakan hari pernikahan saya (dan masih cukup jauh sekali), pelan-pelan saya menyadari kalau beberapa impian saya tidak akan terwujud.

 

Dari dulu saya ingin sekali menikah di gereja dengan nuansa katolik karena terinspirasi dari telenovela2 yang pernah saya lihat waktu kecil. Kesan khusyuk dan ketentramannya sangat terasa. Saya akui saya orang yang jarang sekali ke gereja tapi keinginan untuk menikah disana memang cukup besar. Selain itu, saya juga sering melihat foto2 pernikahan yang menunjukkan keindahan dari sebuah pernikahan di gereja. Tapi ternyata realitas yang saya hadapi berbeda. Calon saya bukan seorang nasrani, dia seorang yang beragama kong hu cu yang berdoanya dilakukan di rumah atau kelenteng. Meskipun itu, saya berusaha menghargai calon saya dengan mengikuti agama dia tapi dengan syarat kami menikah di Vihara (bukan hanya sembayang leluhur) dan untungnya calon saya mengerti dan mau. Jadi realitas dari impian saya buat menikah di gereja tidak terwujud.

 

Dulu (dan sampai sekarang) saya selalu membayangkan menikah dengan dikelilingi oleh keluarga dan teman2 terdekat saya. Bisa seru2an bareng mereka. Saya ingin yang hadir di pesta saya adalah mereka2 yang saya kenal karena pada dasarnya saya mau hari pernikahan saya bisa dikenang dengan indah. Tapi realitasnya, saya memiliki calon dari daerah yang berbeda, saya di Jakarta, dia di Medan. Dengan demikian saya harus mengalah karena seluruh acara baik pemberkatan dan pesta utama diadakan disana. Disini hanya murni acara makan2 tanpa ada ritual pada umumnya. Jujur saja saya sedikit kecewa tapi saya juga harus bersyukur setidaknya saya masih bisa berkumpul dan berbagi dengan keluarga dan teman saya dibandingkan tidak sama sekali. Jadi realitas dari impian saya  tidak sesuai.

 

Dari dulu saya ingin menyiapkan semua detail pernikahan saya sesuai dengan keinginan saya, mulai dari gaun, foto, dekorasi dan lainnya. Tapi ternyata realitasnya berbeda. Karena saya dan calon ada di jakarta sedangkan pesta utama ada di Medan, maka dengan segala ketidakrelaan hati saya serahkan ke calon mertua untuk mengurusi. Kecewa?? Pastinya.. Tapi Tuhan amat baik, paling tidak saya masih bisa mengurusi segala sesuatu untuk pesta di Jakarta. Jadi realitas dari impian saya sedikit tidak terwujud.

 

Hal yang paling utama adalah budget. Impian saya meskipun tidak muluk-muluk banget, tapi tetap membutuhkan dana yang berlebih buat mewujudkannya. Realitas yang saya hadapi, ternyata banyak impian-impian saya yang juga harus tertahan karena masalah budget. Sebagai contoh, Foto dan Video liputan, saya ingin semuanya tampak bagus dan unik. Semua itu butuh dana yang tidak sedikit. Berhubung saya dan calon masih butuh dana untuk usaha dan tempat tinggal, saya harus mengubur keinginan itu dan berpikir keras untuk setidaknya hasil foto dan video saya nanti bisa dikategorikan lumayan. Tuhan terus membukakan jalannya dengan mengirimkan vendor yg paling tidak bisa sedikit memenuhi harapan saya. Ada banyak lagi impian saya yang terbentur dengan budget pada realisasinya yang terlalu panjang jika saya sebutkan disini. Yang pasti beberapa impian saya tidak bisa terwujud.

 

Meskipun banyak impian saya yang tidak sesuai dengan realitas, Tuhan tetap memberikan banyak realitas indah yang diluar impian saya. Saya tidak pernah memimpikan kelak akan memiliki seorang yang baik dan sangat perhatian serta bertanggung jawab. Tuhan juga memudahkan hubungan saya dengan calon. Kalaupun ada ribut2, itu pun masalah kecil dan bisa segera diselesaikan.

 

Buat saya impian dan realitas memang sering tidak sinkron tapi saya bersyukur Tuhan memberikan saya realitas yang indah. Meskipun kadang masih sering iri hati dengan realitas milik orang lain yang terlihat lebih indah, tapi saya belajar bahwa realitas yang saya miliki belum tentu tidak seindah dengan milik yang lain.. Mudah2an realitas hidup saya nanti setelah menikah akan lebih baik lagi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s