Berobat ke Melaka

Akhir bulan Januari (tanggal 22 – 25 Jan), mama saya melakukan pemeriksaan ke Melaka, Malaysia dikarenakan ada keluhan pada bagian urinenya (frekuensi pipisnya terlalu sering). Sudah berobat di beberapa dokter di Jakarta masih belum tuntas akhirnya diputuskan utk ke Melaka. 

Atas saran dari beberapa teman saya, kami putuskan untuk berobat ke Mahkota Medical Centre Hospital (selanjutnya disebut MMC dalam postingan ini). Saya berangkat bertiga dengan mama dan Villia. Jeanne saya tinggal karena pada trip sebelumnya dia cukup rewel dan juga tujuan kesana untuk berobat makanya yang diajak hanya si cici. Dede ditinggal di Jakarta dengan papa dan akungnya. Untuk tiket pesawat, karena sifatnya dadakan saya cari maskapai apa saja yang available kesana. Beruntung bisa dapat tiket murah. PP Jkt – KL naik Malaysia Airlines Rp. 960.000/org. Quite good bargain karena mendadak waktunya (berdekatan pula dengan libur imlek), Full Cost Carrier jadi dapat makanan dan entertainment dan waktu penerbangannya juga oke.

Note : sebelum berangkat kesana pastikan dulu jadwal praktek dokter yg akan dituju. Kontak representatif rumah sakit via email atau google nomer representatif RS di Jakarta. Takutnya pas kita kesana dokter yg kita inginkan tidak praktek. Kantor respresentatif MMC di Indonesia bs dilihat di link sbb

http://www.mahkotamedical.com/tentang-mmc/kantor-perwakilan/indonesia/?lang=id
Day 1 (22 Januari 2017)

Kami tiba di KLIA jam 8 pagi. Sampai disana buru-buru ambil bagasi supaya bisa mengejar bus ke Melaka jam 9. Sebelum ke bus station, saya beli nomer HP di salah satu konter operator MYDIGI. 20rm mendapatkan 1.5GB (awalnya saya kira dapat untuk browsing data 1.5gb ternyata utk data 500mb, musik 500mb sama video 500mb) jd pastikan dulu paket-paketnya sebelum membeli.

Karena ini kali pertama saya pergi ke Melaka, jadi masih bingung banget. Sibuk cari terminal bus di KLIA. Mengikuti papan petunjuk akhirnya kami berhasil menemukan terminal busnya. 

Berdasarkan hasil googling bus murah yg tujuan ke Melaka direct dari KLIA ke Melaka sentral adalah Bus Transnasional. Tiba disana saya coba mencari loket busnya tapi gak ketemu. Ada bus lain menuju Melaka tapi tarifnya sekitar 29RM per keberangkatan. Sedangkan bus transnasional lebih murah. Bolak balik cari gak ketemu akhirnya saya lihat ada bus transnasional tujuan melaka. Saya beranikan diri bertanya ke Uncle supirnya disuruh naik aja. Ya wis ikutin kata si uncle kami bertiga naik dengan perasaan bingung pasrah. 

Pas lg tunggu bus untuk berangkat si mama kebelet pipis gak bisa tahan katanya. Kami ijin ke unclenya utk ke toilet. Toilet di dkt area bus station rusak jd kami naik ke atas lari2 cari toilet mana jauh. Ada 10 menitan dari proses naik-cari toilet-pipis-balik ke bus. Bertiga lari-lari ke arah terminal. Balik-balik, busnya uda atrek mundur mau jalan. Thank God kami gak ketinggalan busnya. Si uncle udah marah-marah kenapa lama. Lalu kami jelasin nyari toiletnya jauh. Trus diomelin katanya bs di KLIA 2 numpang pipisnya. Kita cuma bisa minta maaf aja karna tau salah jg. Dari KLIA, bus menuju ke KLIA2 utk ambil penumpang lalu jalan menuju ke Melaka sentral tanpa berhenti. 

Catatan : dari sebuah forum travelling saya baru mendapatkan informasi bahwa Bus Transnasional tidak ada loketnya di KLIA. Di KLIA bus hanya khusus mengangkut penumpang dengan tiket online. Loket tiket hanya tersedia di KLIA 2. 

Dari forum saya diberikan informasi bahwa ada loket bus direct KLIA 2 langsung menuju MMC. Jadi buat penumpang yang turun di KLIA seperti saya ada dua cara menuju ke Melaka. Jika ingin langsung ke Melaka lewat KLIA maka harus membeli tiket secara online dan di print out. Karena membeli tiket di KLIA harganya lebih mahal 10rm dari tiket bus di KLIA 2

Jika kita ingin lewat KLIA 2 ada beberapa cara yg disarankan jika kita turun dari KLIA yaitu :

1. Naik Train Express. 

Naik train express posisi di bawah (KLIA) dari arrival ke kanan, itu lift langsung turun ke train station KLIA. Tiket KLIA ke KLIA2 harganya 2MYR/org. 
2. Naik fast train (tansit) ke TBS (Terminal Bersepadu Selatan) 

 Dari TBS bus ke melaka tiap setengah jam sekali ( harga tiket bus 10rm keatas tergantung perusahaan bus. Di TBS ada banyak banget busnya. Karena TBS ibarat terminal Kalideresnya Malaysia. Semua bus ngumpul disana.

Note : kalo naik fast train ke TBS (bus station-Terminal Bandar Tasik Selatan) harganya lebih mahal . (Ini disarankan jika bus KLIA2 ke Melaka sudah penuh)

Harga tiket bus direct KLIA – MMC lebih mahal dibandingkan KLIA – Melaka sentral jadi lihat kebutuhannya aja ya apa mau yg direct ke rumah sakitnya atau gak. Dari melaka sentral ke wilayah mahkota sana naik uber/grab ratenya sekitat 10-15rm tergantung situasi dan jamnya ya.  

Tiket online bs dibeli disini

http://www.easybook.com/bus/booking/kliaorklia2-to-malaccamahkotamedicalcentre
Perjalanan KL – Melaka kurang lebih 3 jam. Tiba di Melaka sentral sy bayar tiket langsung ke unclenya 48rm bertiga. Dari melaka sentral kami naik uber ke hotel. 9rm dari MS ke Novotel Melaka. Kami menginap 2 malam disana dgn rate 600rb/malam inc. breakfast. 

Tiba di hotel jam 1an kami beberes lalu memutuskan utk jalan2 di daerah Gereja Christ Church Melaka. Kesana naik uber cuma 3rm. Puas keliling kami mampir ke mal utk cuci mata. Setelah itu pulang ke hotel jalan kaki sambil beli makanan utk makan malam. 
Day 2 (23 Jan)

Sekitar jam 8.30 setelah selesai sarapan di hotel, kami berangkat ke MMC. Naik uber cuma 2 RM. Sebenernya bisa jalan kaki tapi karena hujan jadi kita putuskan untuk naik uber saja. 

Tiba disana langsung menuju front desk MMC untuk mendaftar. Langkah awal untuk pasien baru adalah :

Ambil nomer antrian utk pasien rawat jalan. Nanti tunggu panggilan nomernya sambil siapkan paspor dan KTP pasien yg akan berobat. 

Di layar akan muncul nomer panggilan jadi diperhatikan terus ya layarnya. Saat giliran nomer kita, tujulah meja pendaftaran sesuai nomer yg tertera di layar. Petugas akan meminta kita menyerahkan paspor dan KTP juga kita akan disuruh mengisi form pendaftaran. Kemudian infokan dokter yg ingin kita tuju. Mama saya konsultasi dgn 2 dokter. 1 dokter urolog (dr. Koh Eng Thye) dan dokter tulang (dr. Sivanesan Thirumurthi). 

Setelah selesai kita diwajibkan membayar biaya admin 4RM. Lalu kita akan diinformasikan nomer lantai dan ruangan tempat dokternya praktek. Untuk jadwal praktek, rata-rata dokter disana praktek dari hari senin-jumat dari pagi sampai sore/malam. Untuk biaya dokter tergantung dokternya masing-masing.

Mama saya berkonsultasi dengan 2 dokter disana. Dengan dokter tulang karena sering ada keluhan sakit di persendian dan di urolog karena frekuensi pipis berlebihan. 

Untuk tulang, mama saya diberitahu oleh dokter bahwa nyeri-nyeri dipersendian itu adalah wajar karena faktor usia. Karena dipakai bergerak. Apabila kegiatannya terlalu berat/lama maka bisa terasa sakit. Oleh dr. Siva mama hanya diresepkan vitamin saja. Beda dengan dokter langganan mama di jakarta yg dikit-dikit painkiller dikit-dikit suntik. 

Pemeriksaan selanjutnya adalah dengan urolog. Dr. Koh minta dilakukan USG abdominal utk mengetahui kondisi kantong kemih mama. Hasilnya kantong kemih mama ukurannya mengecil yg menyebabkan mama tidak bisa menahan pipis. Mama disarankan untuk melakukan endoskopi untuk memperlebar kantong kemihnya. Setelah menelpon papa diputuskan untuk endoskopi. Endoskopi sendiri gak diharuskan utk menginap karena hanya makan waktu setengah hari. Tapi karena kami mau klaim ke asuransi maka diputuskan utk nginap semalam. 

Karena dadakan, saya hanya bisa berkonsultasi dengan agen asuransi via Whatsapp untuk tahu step2nya dan minta di email formnya. Sy juga menginformasikan ke asisten dokter bahwa sy mau mengajukan klaim ke asuransi. 

Sepertinya sih assisten dokter disana sudah paham jd sy dibantu jg utk disiapkan segala dokumen pendukungnya. Kemudian sy mengurus administrasi mama sy (deposit 1500rm) bayar cash krn gak bawa kartu kredit. 

Setelah mengurus administrasi utk endoskopinya, mama dibawa ke ruang rawat inapnya sambil menunggu utk tindakan endoskopi. 

Jam 5 dilakukan endoskopi jam 6.30 sudah kembali ke kamar dan beristirahat. Krn sy membawa cici jd gak memungkinkan utk tinggal di RS, akhirnya sy dan cici kembali ke hotel, mama stay sendirian di RS.

Karna ambil kamar ber4 dan kebetulan ada pasien lain yg dirawat, sy minta tolong seorang ibu keluarga pasien sebelah utk membantu mengawasi mama sy. Sy jg info ke suster utk menghubungi sy jika ada sesuatu. Krn hanya tindakan kecil jd masih bs ditinggal. 

Sampai hotel saya langsung buru-buru packing krn besok sudah mau balik ke KL. Sebelumnya sy juga sempat minta perpanjangan waktu check out ke pihak hotel karena takut mama dibolehkan pulang setelah jam 12 siang. Karena saya member accor, sy diberikan kelonggaran sampai pukul 2 siang

Day 3 (24 Jan)

Jam 8 pagi saya kembali ke RS. Mama sudah segar dan sudab selesai sarapan. Ganti pakaian sambil menunggu dokter jam 10 utk visit baru dikasih pulang. Setelah dokter visit, saya baru bisa mengurus untuk mama keluar dari RS. Ke bagian admin dekat ruang rawat inap untuk membayar sisa tagihan dan juga minta form asuransi yg sudah diisi dokter. Ambil obat di farmasi baru pulang deh. Sebelumnya kami beli tiket dl di counter transnasional yg ada di RS utk jam 1 siang. Lalu kembali ke hotel.

Note : jangan lupa minta stempel RS disetiap form terutama invoice RS krn tanpa stempel asuransi P tidak akan approve klaim kita disini. Stempel diminta di bagian front desk

Sampai hotel jam 11an langsung check out dan berangkat ke Melaka sentral. Setiba disana kami keliling Melaka sentral karena bus berangkat jam 1 siang. Setelah hampir jam 12.30 kami menunggu di bagian keberangkatan bus. Karena sy kira bentuk bus transnasionalnya yg sama seperti saat datang dari KL. Ternyata sy salah!!! 

Bus transnasional yg ke KL sentral warnanya ternyata beda dan tidak ada tulisan transnasionalnya. Karena gak ngerti sy main naik aja ke bus yg ada tulisan transnasional dengan supir yg sama waktu sy datang. Udah pede masukin ke bagasi bus barang bawaannya ternyata 3 menit sebelum berangkat dikasih tau klo itu ke KLIA akhirnya buru-buru turun dan ambil barang di bagasi. Ampun deh malunya luar biasa terutama sama si uncle yg menatap sy dengan kesel. Ternyata bus yg harusnya sy naiki itu sudah jalan dari tadi dan kita juga uda lihat sebelumnya cuma karena gak ada tulisannya jadilah kita salah. 

Akhirnya beli tiket lg utk tujuan TBS. Delima klo ga salah nama busnya. Jalan jam 2. Tiba di TBS jam 4.30. Lanjut naik grab ke Mercure Shaw Parade. Iseng coba menginap disana karena baru buka dan dapet rate bagus. 

Sampai disana kami beberes trus keluar hotel untuk cari makan ke daerah mall Pavilion sambilan jalan2.

Day 4 (25 jan)

Karena kami musti ke bandara jam 1 siang (flight jam 4 sore) kami putuskan ke Giant Sungai Wei utk membeli oleh-oleh. Biar gampang aja gak usah ribet2 nawar. Balik ke hotel ambil koper cek out terus naik grab ke bandara (75rm) dan pulang ke jakarta. 

Total biaya kami selama disana (biaya pesawat, hotel, makan dan transportasi) sekitar 5 juta utk 3 org. Utk biaya RS tergantung penyakit dan tindakan. Biaya berobat mama disana 14 juta utk keseluruhan (biaya konsultasi dgn 2 dokter, biaya pemeriksaan dgn alat, endoskopi, obat2an selama 3 bulan. Karena rawat inapnya gak sampai 24jam asuransi hanya membayarkan biaya endoskopi dan rawat inap. Biaya diluar itu (biayak konsultasi, USG dan obat-obatan diluar invoice rawat inap) ditanggung sendiri. Klaim yg keluar sekitar 10jt. Lumayan banget.. 

Puji Tuhan pengobatan mama di Melaka berhasil. Frekuensi pipis mama berkurang drastis dan bisa tahan pipisnya. Bulan ini mama akan balik lagi kesana untuk kontrol. Nanti saya akan posting lagi ya beserta review hotel Novotel Melaka dan Mercure Shaw Parade. 

Ps. Fotonya gak banyak dan gak beraturan karena gak suka foto jadi foto seadanya banget
Ps lagi. Utk langkah klaim asuransi baiknya sebelum berobat ditanyakan ke agen asuransi masing-masing. Secara garis besar, sepertinya sih sama cuma mungkin form dan bukti pendukung yg diminta akan berbeda. Jadi selalu pastikan persyaratan utk melakukan klaim. Sy sekeluarga pakai asuransi Prudential. Jd dibutuhkan sekali invoice asli yang terbubuhkan stempel RS selain form yang sudah diisi oleh dokter. Semua form jg dimintakan untuk dicap pihak RS. Karena kekurangan 1 syarat dipastikan klaim akan ditolak. Sistem klaim berobat di LN kita bayar dl baru reimburst ke pihak asuransi.

Ps lagi. Untuk biaya berobat di melaka terhitung murah dibandingkan di RS swasta Indonesia dan singapura. Dokternya jg komunikatif. Gak usah kuatir kendala bahasa. Karena banyak banget pasien dari indonesia mostly mereka mengerti bahasa indonesia sedikit, bahasa inggris mandarin dan bahasa hokkian jg bisa. Biaya konsultasi dan obat yg dikeluarkan dokter disediakan dan dibayar langsung di ruang konsultasinya. Harga obat terhitung murah karna rata-rata bisa utk dikonsumsi dlm jangka waktu beberapa bulan.

Iklan

Jeanne : 1, 2, 3 Bulan

Hari ini tepat ulbul ke 3 Jeanne.. Jadi gw memecut diri gw untuk menulis milestone J dari usia 0-3 bulan ini. So here we go..

Perihal berat badan dan susunya

Berat badan Jeanne saat lahir 2.770 kgs kemudian turun 200gr 5 hari kemudian karena bilirubinnya tinggi. Dulu cicinya bilirubin 18 J bilirubinnya 24. Langsung deh masuk RS buat disinar. Manalah pas abis lahiran itu cuaca lagi jelek banget, mendung terus jadi gw putusin untuk disinar aja biar cepet turun kuningnya. Penyebabnya apalagi kalo bukan karena golongan darahnya beda dengan saya. Dia B + ngikutin papanya, saya O +. And again asi gw baru keluar pas hari ke tiga itupun seiprit2 jadilah gw campur sufor bahkan sejak hari kedua untuk menghindari dia dehidrasi dan kuning, ternyata yah tetep aja kuning -___-”

Setelah diperina 24 jam sambil tandem ASI Sufor, besoknya bilirubinnya turun ke angka 16 dan gw boleh pulang. 2 hari kemudian turun lagi bilirubinnya jadi 10. Thank God.

Sejak itu, berat badan J terhitung stabil, naik sekitar 1 kilo tiap bulannya. Terakhir timbang di usia 2 bulan 16 hari berat badannya sudah 5.3 kg

Tinggi badannya sekarang 58 cm, naik 11 cm dari tinggi badannya saat baru lahir. Montok dan padet anaknya.

(setelah baca milestone cicinya saat usia segini ternyata sama dengan cicinya baik tinggi maupun berat badannya)

Perihal Susu dan Tidurnya

Tantangan terbesar dan terberat gw selama masa gueklai kemarin adalah jadwal tidur J yg supeeerrrrrr menguras emosi dan tenaga. Gimana enggak. Dulu cicinya terhitung teratur jadwal tidurnya. J bener-bener bertolak belakang. J tidur seharian dari jam 6-7 pagi sampai jam 9 malem. Bangun sebentar hanya untuk nyusu, mandi, ganti popok saat pipis or pup. selebihnya tidur blass.. Gw bangunin pun gak mau bangun. Segala cara dari elus, kitikin, basuh pake air sampe telanjangin pernah gw coba tapi tetep anaknya pules. Begitu jam 9 malem tiba, mulai deh anaknya ON ampe pagi.

Asli gw capek lahir batin saat itu. Dari yg bisa tidur malem sampe cuma tidur 2 jam itu bener-bener bikin gw baby blues. Bawaannya uring-uringan sampe gw kadang lepas kontrol dan bisa marah ke J. Ngerasain banget baby blues. Dan gegara ini, gw sampe takut banget yg namanya malem hari. Emang sih minggu minggu terakhir gw gueklai mamer dateng bantuin untuk jaga saat malem tapi tetep deh gw gak bisa tidur karena anaknya mau nenen terus. Lebih tepatnya mentil, plus digendong juga. Gegara mentil, J jadi sering pup dan gumoh sampe muntah tengah malem. Bener-bener ujian banget. Mamer nyaranin gw untuk pasang ayunan dan kasih empeng tapi gw gak bergeming karena merasa dl kakaknya baik2 aja tanpa empeng.

Tappiii akhirnya gw menyerah juga dengan keadaan. Gw akhirnya ngasih empeng ke J karena gw gak tahan. Beberapa hari setelah muaguek PRT gw pulang (dan tak kembali) karena suaminya balik trus juga udah deket mau lebaran. Mamer gw yg tadinya gw minta buat nemenin (dan bantuin) sampai lewat lebaran ternyata pulang sehari setelah PRT gw pulkam gegara tante Jo ikut dan udah ngerengek minta pulang. Asli dah gw uda gak tau harus gimana. Gw akhirnya ngungsi ke rumah nyokap. Tapi kan kasian org rumah terganggu akhirnya disuruhlah gw pake empeng.

And it’s work like magic. Sim salabim, malam itu empengan malam itu juga berkurang intensitas bangunnya, rewelnya, gumohnya, even pupnya. Sebelumnya gw tes pake empeng pigeon anaknya gak mau. Trus gw tuker beli yg merk Fisher price ternyata dia mau. Dan sejak saat itu, J mulai bisa lebih anteng bobonya. *sujudsyukur*

Untuk susu, Puji Tuhan, sampai saat ini gw bisa kasih full asi. Beda mungkin ya, dulu pas Villia gw lebih “manja”. Jadi malem sebelum gw tidur gw pompa untuk dia minum malem, sedangkan J karena PRT gw tidak serajin dan sebaik Sumi yg mau begadang “terpaksa” gw bangun.

Ternyata karena sering nyusuin, ASI gw sekarang malah bisa mencukupi kebutuhan J. Campur sufor sebulan awal  itupun sedikit (sehari 1-2 botol aja) selebihnya full ASI. Gw sendiri gak pasang target harus full asi. Jalan aja ikutin arus. But I try my best untuk ASIX. So far, stok asip mencukupi meskipun gw pas cuti bolong-bolong nyetoknya. Sehari J minum kurleb 300 ml (3 botol) = 1 botol yg gw pompa pagi hari sebelum kerja, 2 botol dari asip simpanan. Sehari gw pompa 3x bisa dapet total kurleb 500 ml (4 – 5 botol). Semoga aja bisa terus mencukupi kebutuhan minum J deh. Belum bisa marmet, pake BP manual sama elektrik. BP manual sekarang pake Medela Harmony (oke juga buat merah asi) elektrik pake Freestyle, tapi masih belum sesuai harapan gw.

Perihal kemampuan motoriknya

Kemampuan motorik dasar J sudah berkembang. Usia 2 minggu sudah mulai mau angkat kepala setiap ditengkurepin ditangan . Usia 1 bulan udah mulai mantap angkat kepalanya, dan diusia 3 bulan ini udah bisa tegakin kepalanya pas tengkurep. Udah mulai bisa tengkurep sendiri dikasur. Kaki dan tangan juga aktif digerakin. Tendangannya udah kuat sekarang. Kalo ditengkurepin udah mulai gerakin kaki tangan kepengen maju. Kalo dibantu tahan kakinya sedikit mulai bisa maju kedepan.

Udah masuk fase oral juga. Tangan semua muanya dimasukin. Kalo diajak ngobrol suka “kepo” mau ikutan ngobrol. Suaranya udah bisa “nguu” “gaaa” “aaa” “huuu”. Tapi kalo dipanggil namanya masih belom mau nengok.

Jeanne juga sama kayak cicinya tipe manja. Jadi semenjak gw kerja, seharian anteng aja di taro di bouncer ataupun di kasur. Kadang bisa main sendiri, kadang main sama orang rumah. Mau bobo juga langsung bobo gak pake acara rewel. Rewel juga cuma minta susu. Tapi begitu gw pulang, J berubah jadi manja, pengennya dikelonin aja. Mama bilang ” waktu kamu kerja dia anteng2 aja. Giliran kamu pulang anaknya jadi manja banget jadi rewel minta dikelonin” . Ternyata kakak sama adik sifatnya sama..

Perihal Kesehatan & Jadwal Imunisasi

Puji Tuhan sejauh ini Jeanne bisa dikatakan bayi sehat. Sempet pilek waktu usia 1 bulan lebih. Kayaknya sih kecapean gegara 4 hari pas lebaran straight pergi ke mol (ibu yg buruk jangan ditiru). Selebihnya anaknya sehat.

Untuk jadwal imunisasi, mengikuti tabel yang ada di buku kesehatannya. Sejauh ini sudah vaksin Hepatitis B, Polio, BCG, DPT, Hib dan Rotavirus. Rencana PCV jumat besok. Dan again bangkrut mamaknya terutama 2 minggu lalu karena vaksin barengan cicinya. Tapi gak papalah yg penting anak sehat.

image

Update : semalem anaknya udah bisa tengkurep sendiri. Wohooo..
image

Villia : 14, 15, 16, 17, 18 Bulan

Ketauan ya, gw makin males update milestone Villia tiap bulannya. Jadi gw satuin aja jadi satu postingan.

Perihal Tinggi dan Berat Badannya

Oke kita mulai dengan TB dan BBnya. Berhubung sejak 12 bulan ke atas jadwal imunisasi jaraknya jauh-jauh maka dari itu gw baru tau TB dan BB Villia yg sesungguhnya 2 minggu yg lalu saat vaksin DPT HIB Polio ke 4. TBnya sekarang 78 cm dan BB 10 kg. Klo tinggi badan emang keliatan bgt perubahannya selama 5 bulan ini. Dulunya dia gak nyampe klo mau ambil barang di meja rias sekarang udah nyampe dan kepalanya jg uda ngelewatin meja rias dikamar. BB gw liat standar gak naik banyak, ada kalanya dia kerasa berat ada kalanya gak. Tapi menurut dokter BB dia masih masuk grafik. Dan di grupnya pun salah satu yg BBnya cukup berat.

Perihal Kesehatan

Halitosis sudah berkurang jauh. Jarang kambuh. Selama gw terakhir cuti mau lahiran sampai gw masuk kerja Puji Tuhan Villia dalam keadaan sehat. Ada batuk pilek tapi cepet sembuh. Semoga cici sehat terus..

Perihal Asupan

Udah makan apa aja, ngikut makanan dirumah. Gak spesial dipisah lagi makanannya. Udah keliatan kesukaannya. Paling doyan makan sesuatu yg dimasak kecap kayak telor kecap, ayam kecap segala deh yg diadon pake kecap. Suka banget makan kerupuk dan biskuit RITZ. Suka makan yg digoreng. Gak terlalu suka makan manis-manis. Sayur belum terlalu suka, tapi kalo dipotong-potong halus masih mau makan sih. Makanan suka yg anget tapi minuman suka yg dingin. Kalo minum jus bisa abis segelas (tapi end up gak mau makan -_-”). Lagi agak susah makan sih, maunya nyemil atau nyomot makanan orang.

Perihal Perkembangan Motorik

Kegalauan gw akhirnya terbayarkan saat gw cuti melahirkan. Tepat seminggu sebelum lahiran Villia mulai belajar jalan (usia 15 bulan). Jadi gw ngeliat sendiri gimana dia belajar untuk jalan selangkah demi selangkah. Pas gw melahirkan dan masuk masa guek lai, ternyata dia makin lancar. FYI, selama masa guek lai sampai sekarang Villia gw titipin ke rumah nyokap supaya gw gak keteter pegang adiknya, juga supaya dia gak terganggu adiknya yg on terus saat itu (nanti gw ceritain ya masalah ini di postingan berikutnya).

Sekarang anaknya jalan udah cepet banget. Daan ternyata masuk fase jalan ini capek yaa.. Mana anaknya maunya jalan sendiri gak mau dipegangin terutama saat di mol. Asli capek jagainnya. Papa sama opanya aja kecapean apalagi gw. Jadilah terkadang gw “paksa” untuk duduk di stroller demi keamanan bersama. Gw takut anak gw ketabrak orang atau nabrak barang jualan jadi amannya iket distroller aja hahaha..

Sejak bisa jalan, dia jg jadi berani buat manjat-manjat. Ya sofa lah, kursi, kasur, segala dipanjat. Ampunnn

Verbal

Kemarin gw juga sempet galau karena kosa kata Villia terbatas banget. Bahkan sempet mandek di mama papa aja. Ternyata sebulan terakhir ini dia nunjukkin kemampuan bicara yg cukup pesat. Dia uda masuk fase membeo. Uda bisa ikutin beberapa kata yg kita ucapkan meskipun kurang jelas. Beberapa kali juga uda mulai bisa ngucap dua kata contoh mama cus (mama disuntik) waktu gw ke dokter.

Kata yg sudah bisa diucapkan : Mama, papa, A po, A kung, Cici, I ik (ie ie), dede Jen, Bak (mbak), Ati (nama mbak dirumah), mas, abang, apel, akit, acih (makasih), adut (badut), mamam, meme (marah, bhs hokkian), ndak (ga), cus (suntik), atut (takut), dan kata-kata lain yg kita ucapkan udah mulai bisa ditiru. Yang masih jadi peer besar buat gw adalah ngajarin dia ngomong minum/mimik. Dia gak bisa mulu selalu bilang M3m3K. Ampun dahh.. Tiap dia ngomong kita selalu ralat ajarin ngomong yg bener tapi masih tetep ngomong itu. Semoga deh bisa ngomong minum nanti. Tar dikirain kita ngajarin ngomong jorok lagi.

Villia juga udah mulai bisa diajak komunikasi dua arah. Mulai bisa jawab pertanyaan kita baik secara verbal maupun dengan gerakan. Tapi kadang kita juga ga mudeng sama maksudnya jadi anaknya suka ngamuk hehehe.

Gw juga mulai beliin Villia buku-buku first word gitu buat Villia. Lumayan lah kadang suka diliat-liat. Dari buku itu mulai belajar bagian tubuh mana bisa tunjuk, buah dan sayur beberapa juga tau, hewan juga. Yah gak sia-sia mamanya beli buku. Tapi terkadang kalo lagi gak mood bukunya diinjek lah dilempar lah. Nasib emaknya beli board book kalo gak udah ancur dari kapan tau bukunya.

Perihal Imunisasi

Dibulan ke 15 seharusnya ada vaksin MMR, tapi gw tergalau gundah gulana akibat ada isu vaksin MMR yg membuat jd autis or gangguan bicara. Meskipun kata dokter itu cuma hoax tapi gw putuskan untuk nunda vaksin MMR sampai dua tahun. Gak mau ambil resiko aja. Jadilah Villia baru imunisasi pas umur 18 bln, Vaksin DPT HIB Polio ke 4. Untuk PCV gw tunda dulu karena mau vaksin PCV si Jeanne dl. Rencana akhir bulan lah baru booster PCVnya.

image

Cerita Kelahiran Jeanne

Holaaa..

Akhirnya bisa kembali lagi nulis di blog setelah sekian lama hilang dari peredaran. Yah beginilah kalo udah punya dua anak (plus sempet maid-less) jadilah males mau updet blog. Blogwalking juga sesekali aja. Sekarang bisa updet karena kerjaan kantor lagi gak ada. Jadi marilah kita mulai postingan perdana ini dengan menyambung cerita lahiran Jeanne.

03 – 10 Juni 2014

setelah tanggal 2 juni cek ricek dengan pakdok dan dikasih tau kalo uda pembukaan 2, siap-siaplah gw dan suami untuk menantikan pembukaan berikutnya dirumah. Gw disuruh pulang karena kata pakdok bisa nambah bukaannya malem or besoknya atau bisa juga seminggu lagi, jadi better tunggu dirumah. Nanti kalo uda ngerasa mules or ada tanda lain langsung buru-buru ke RS. Gw tadinya mau cuti pas hari lahiran akhirnya majuin tanggal cutinya jadi tanggal 3 karena takut mules or pecah ketuban di kantor.

Ditunggu-tunggu sampai besok pagi tgl 03 Juni gak ada tanda apa-apa. Malah kontraksinya juga makin ilang. Yasud, gw bersabar menunggu. Selama menanti itu, gw usahakan banyak gerak, bahkan gendong Villia supaya cepet tambah bukaannya (saat itu gw baru ditinggal pengganti sumi). Hasilnya NIHIL. Gak ada kontraksi meski rasanya kepala si bayi uda turun dibawah gitu.

Tgl 7 Juni pagi, gw cek up mata sekali lagi untuk minta referensi boleh gak lahir normal, hasilnya disarankan sesar, langsung naik keatas buat ketemuan sama pakdok untuk bicarain masalah ini. Ketemuan sama pakdok dicek uda pembukaan 3 tapi tipis. Pakdok bilang kalo liat pembukaannya lamban gini apa lagi anak kedua rasanya gak bisa nunggu pembukaan secara alami, harus dibantu dengan induksi. Masalah sesar, pakdok menyerahkan sepenuhnya ke gw maunya gimana. Gw sendiri pengen normal karena gw tau recoverynya lebih cepet dan gw ngerasa “rugi” aja kudu atas bawah. Tau gitu dari awal aja gw sesar. Pakdok jg berat gitu mau sesar. Dia bilang resiko sesar itu lebih besar, bertaruh nyawa. Dia bingung kenapa orang sekarang banyak yg minta sesar ketimbang lahiran normal. Apalagi ada kasus meninggalnya ibu paska operasi sesar bikin gw takut juga.

Kalo gw disuruh sesar karena gak boleh ngeden, dia ngasih gw alternatif sbb :

  1. Induksi dengan infus, karena prediksi dia gak akan bertambah bukaannya klo gak dibantu induksi. Berhubung dia mau cuti tgl 15 – 18 maka kalo gw mau harus diinduksi antara tgl 9 – 13 Juni.
  2. Sebelum diinduksi, gw disuntik anestesi dulu (Epidural) untuk mencegah tekanan bola mata gw naik karena sakit mules
  3. Karena gak boleh ngeden, lahiran akan dibantu dengan alat vakum untuk menarik kepala bayi

gw yg masih syok memutuskan untuk mikir-mikir dulu mau sesar atau normal++ itu. Gw sih pribadi gak against sesar. Klo harus sesar let it be. Sekeliling gw pun banyak yg sukses-sukses aja lahiran sesar. Tapi mikirin kemungkinan resiko dan pemulihan paska sesar yg katanya lebih lama bikin gw galau. Tapi kalo gw normal++ gw pun juga takut resikonya karena kepala anak divakum kan. Di vakum meskipun secara medis aman tapi bisa juga terjadi resiko terhadap bayi. Duh asli gw tambah galau.

Setelah beberapa hari konsultasi ke suami, sodara dan temen akhirnya gw memutuskan untuk lahiran normal++ itu. Jadilah gw memilih tanggal 11 Juni untuk dilakukan induksi via infus untuk membantu menambah pembukaan.

11 Juni 2014

Gw bangun subuh jam 4an untuk siap-siap mandi dan keramas. Karena abis lahiran kan gak bole mandi dan keramas sampai kurang lebih 2 minggu. Setelah itu mampir ke rumah sebentar (karena sejak pembukaan itu gw nginep dirumah nyokap) buat sembayang dan ambil barang suami. Cus lah kita ke RS Puri jam stgh 6 pagi. Janjian untuk induksi jam 6 tapi gw baru nongol di RS jam stgh 7 karena gw makan dulu di McD. Tiba di RS langsung urus admin, gw ganti baju rebahan di ruang observasi dan di CTG untuk dicek detak jantung bayi dan kuatnya kontraksi. Ternyata sampe pagi itupun kontraksi gw masih acakadut. Kadang kuat kadang lemah bahkan sempet gak ada kontraksi sama sekali.

Jam 9 gw mulai di induksi pake infus. Pertama hanya infus biasa. Sebelum diinfus, gw disuntik epidural terlebih dahulu supaya kalau induksinya berhasil dan mules, gw bisa gak terlalu kesakitan yang menyebabkan tekanan mata gw jadi tinggi. Oya dua kali di epidural di RS Puri, dua-duanya gw gak ngerasa sakit. Kalo yg pertama gw disuntik kan dalam perasaan sakit mules jadi gw gak kerasa tuh, nah kalo yg kali ini pemasangan kateter sampai dimasukin biusnya gw kan dalam keadaan biasa, gak terasa sakit. Berasa digigit semut aja. Di epidural itu tujuannya supaya gak terasa sakit. Badan gw kebes tapi masih berasa klo disentuh. Jadi pas cek dalem atau ada kontraksi kerasa ada gerakan tapi gak sakit. Bius epiduralnya bisa bertahan 3-4 jam setelah itu bisa ditambah jika diperlukan.

Dua jam di infus ternyata kontraksi gw gak meningkat, cenderung lemah seperti sebelum di infus. Di cek pembukaan pun majunya lamban. Baru pembukaan 3 tebal mengarah ke 4. Akhirnya diganti infusannya dengan infus yg sudah disuntikan obat perangsang mules. Kontraksi pun mulai ada tapi gak terlalu kuat. Jam 2 siang, bius epidural gw di top-up. Di cek pembukaan masih lamban baru pembukaan 4. Saat itu gw asli stress banget. Gw takut keputusan yg gw ambil salah dan ujung-ujungnya nanti sesar. Asli deh hati gw berantakan banget saat itu. Cemas, stress, takut semua jadi satu. Syukurnya, saat itu gw selalu ditemenin suami. Jo sabar banget ngadepin gw yg lagi labil saat itu. Sambil diinfus, sambil gw elus-elus perut kasih tau dedek untuk cepet keluar supaya bisa ketemu sama mama papa. Supaya dedek bisa lahir dengan selamat. Kita sama-sama berjuang.

Akhirnya jam 4 dicek pembukaan ternyata masih pembukaan 4 menuju 5. Susternya pun bilang bahwa air ketuban gw uda sedikit. Lapor ke dokter, disuruhlah untuk pecahin ketubannya supaya membantu mempercepat pembukaan. Rasanya dipecahin ketuban itu gimana? Rasanya kayak balon dipecahin pake jarum, plop trus keluar deh airnya. Pas gw karena tinggal sedikit, airnya gak muncrat ngalir kayak pipis aja tapi gak banyak. Abis dipecahin itu, mulailah meningkat kontraksinya. Gak lama gw langsung pembukaan 5 dan mulailah kerasa mules. Mana ya efek biusnya juga mulai ilang kan. Buset rasanya mantep banget. Dalam sejam gw langsung pembukaan lengkap. Pakdok kebetulan sore itu praktek langsung buru-buru dipanggil ke ruang bersalin. Gw disuruh nahan supaya gak ngeden. Ada deh 15-20 menitan gw nahan. Rasanya maknyoss gilee.. Tangan Jo gw remet-remet sambil atur napas sambil kadang bilang sakit tapi berusaha untuk gak teriak supaya gak abis tenaganya. Nunggu pakdok dateng rasanya kayak berjam-jam.

Akhirnya pakdok muncul. Alat vakum disiapkan, suster berdiri di kanan kiri gw untuk bantu dorong perut gw. Lalu pas mules dahsyat itu datang, pakdok langsung aba-aba 1, 2, 3.. alat vakumnya dimasukin, suster langsung sigap dorong perut gw, dan plop keluarlah kepala si dedek. Gak sampe 10 detik deh divakumnya. Terus dedek dikeluarin dan nangis untuk pertama kalinya. Tepat pukul 17.22, Jeanne lahir, kemudian dibersihkan dan ditaruh untuk IMD. Puji Tuhan kali ini ari-arinya bisa keluar. Selesai dijahit, gw masih IMD sampai kira-kira setengah jam gitu, J dibawa ke ruang anak untuk dibersihkan dan ditaruh diinkubator, gw pindah ke ruang perawatan.

Puji Tuhan meskipun banyak rintangan tapi gw bisa melahirkan dengan selamat. Terima kasih kepada Tuhan yang selalu menyertai lewat perpanjangan tangan melalui Pakdok Calvin Tjong, suster-suster di ruang bersalin dari shift pagi sampai shift sore, suster-suster di ruang perawatan dan ruang anak. Kepada suamiku yang selalu setia menemani dalam proses lahiran kedua putrinya, keluarga dan teman-teman yang telah memberikan doanya. Terima kasih..

Bagi yang penasaran, kondisi mata gw cukup baik, tindakan lahiran kemarin tidak mempengaruhi kondisi mata gw. Lalu tindakan vakum kemarin karena berlangsung cepat sejauh ini tidak berefek yang serius ke Jeanne. Hanya awal-awal setelah lahir kepalanya agak berjendol tapi berangsur-angsur hilang jendolnya setelah beberapa hari. Semoga kedepannya pun tidak ada masalah sehat sentosa. Amin

Epilog

1 Juni 2014
Tengah malem udah mulai ngerasain sensasi kenceng-kenceng diperut. Masih ragu apa bener kontraksi atau bukan. Soalnya waktu villia kan kontraksinya pas ketuban pecah. Bikin susah tidur karna deg-degan. Plus 10 kali bolak balik ke wc buat pipis.

2 Juni
To be honest badan udah kerasa berat dan capek sih tapi masih maksa diri buat masuk karena ada kerjaan yg belum diselesaiin plus jumat lalu mendadak cuti jadilah berangkat ke kantor.

Pulang kantor langsung ke dokter buat kontrol. Dari kantor ampe tempat praktet dokter perut bagian bawah ngerasain sensasi kenceng-kenceng sepanjang jalan. Sampe tempat dokter, masih nunggu antrian lagi. Berat badan sekarang 63 kilo. Selama nunggu masih tetep kerasa kenceng-kenceng.

Masuk ke dalem di cek posisi kepala bayi udah dibawah meskipun belum engaged. Wajar katanya klo anak kedua dst biasanya kepalanya gak harus masuk panggul dulu, kadang hanya “numpang lewat” aja. Beratnya 2,7kg. Trus karena uda ngerasain kenceng2 dokter periksa dalem untuk cek ada bukaan atau belum. Ternyata uda pembukaan dua. Gw langsung disuruh cuti karena ada kemungkinan bisa lahir kapan aja. Tapi gw gak disuruh ke RS, masih disuruh pulang. Mungkin karena belum ada flek ataupun pecah ketuban. Diwanti2 klo terasa kontraksi teratur dan semakin kencang atau any labor sign langsung ke RS.

Pulang dari dokter langsung siap-siap barang buat di bawa ke RS. Udah nginep rumah nyokap juga incase kalo tengah malem mules biar Villia bisa lgsg dijagain. Gw jg langsung keramas malam itu karena klo abis lahiran kudu libur sebulan keramasnya. Trus istirahat.

Tapii gw gak bisa istirahat karena hati uda deg-degan aja nungguin tanda lahiran selanjutnya. Ternyata sampai pagi ini masih belum ada tanda lain. Kayaknya stuck pembukaannya. Jadilah sekarang gw berusaha santai sambil menunggu tanda berikutnya. Doakan ya semoga semua lancar-lancar aja.

Akhirnya..

gw resmi maid-less..

Akhirnya gw ngerasain dilema working mom akibat dari deramah PRT/BS. Seperti yg uda gw ceritain sebelumnya, gw ditinggal resign ama sumi gegara dia hamil lagi. Beberapa hari sebelum dia pulang, gw dapet penggantinya. Sebut saja si A. A ini temen dari istri karyawan suami. Karena tidak ada pilihan lain, dan setidaknya dia diambil dari orang yg kita kenal, bukan totally stranger. Umurnya 30 tahun, berbadan kecil.

Dari segi kerjaan gw pribadi gak komplain. Yang penting rumah bersih di sapu pel dan terpenting anak gw diurusin dengan baik. Klo masalah bersihin perabot dll dikerjain seminggu sekali juga gak papa. Berhubung gw gak mengenal dia sebaik Sumi, gw dan suami memutuskan selama hari kerja, pagi-pagi gw uda titipin dia dirumah nyokap. Dulu biasanya sumi dijemput di rumah sekitar jam 10an gitu. Malem pulang juga bareng kita. Jadi gak ninggalin Villia berduaan sama mbaknya aja. Gw parno dengan berita-berita tentang ART/BS yg nyiksa anak, sedangkan ortu gw parno takut cucunya diculik. Jadilah kita terpaksa repot dikit, terpenting Villia dibawah pengawasan orang rumah.

Sebelum dia bekerja, gw sih udah wanti-wanti ke dia, kalo ngerasa gak cocok jujur aja kasih tau biar nanti gw cari gantinya dulu jangan tiba-tiba minta resign. Gw mau lo masuk baik-baik keluar pun baik-baik. Trus selama dia kerja gw dan suami gak pernah komplain apa-apa paling hanya koreksi klo ada yg kerjaan dia yg salah. Dan klo berdasarkan cerita dia tentang majikan dan work load dia dulu, gw bisa bilang kita jauh lebih baik dan pekerjaannya jauh lebih santai dibanding tempatnya dulu. Beberapa kali pun kita sempet tanya cocok gak kerja sama kita. Katanya cocok.

Tiba-tiba 3 hari lalu, suami di sms ama karyawannya ngasih tau kalo tante si A ini dateng ke rumahnya bilang klo mamanya sakit dan dia gak tau no hp si A jadi gak bisa kabarin dia. Trus suami lgsg kasih tau si A klo mamanya sakit. Anehnya pas suami kasih tau, ternyata dia udah tau dari beberapa hari yg lalu. Dia mau pulang tapi sungkan karena baru kerja belum sampe sebulan uda minta ijin. Yah gimana ya klo urusan ortu sakit kita kan gak mungkin ngelarang, cuma gw rada curiga koq tadi di sms dibilang dia gak tau tapi pas ditanya ke orangnya dia udah tau. Ada yg aneh.. Besok siangnya dia pulang, suami ngasih gaji sebulan dan ongkos juga padahal dia belum sebulan kerja. Soalnya pas kita tanya katanya mau balik lagi.

Selama dia ijin, gw sama suami berjibaku ngurusin Villia sama beberes dikit lah dirumah. Biasanya sih gw selalu nginep dirumah nyokap, tapi kemarin itu entah kenapa gw nekatin aja. Mau nyoba perdana dirumah bertigaan aja. Toh cuma dari malem ampe besok pagi aja. Paginya gw titip dirumah nyokap. Lumayan lah meskipun terasa jg capeknya.

Besoknya, ART nyokap cerita klo si A ini pernah cerita ke dia klo A rencana mau cuti pas gajian. Alesannya sih mau pulkam buat bilang ke mamanya supaya gak dikawinin. A jg cerita kalo dia lagi balikan lagi sama mantannya. ART nyokap jg bilang beberapa kali kepergok dia tengah malem suka telpon-telponan sama pacarnya. Dan gw langsung feeling nih orang sih gak bakalan balik lagi.

Eh tau-tau kemarin dia sms suami bilang ga balik lagi gegara mamanya kritis dan gak ada yg jaga. Yah gw gak tau ya dia bener atau bohong, tapi ya dari cerita si ART nyokap, gw koq ngerasa dia bohong. Gw merasa dia bukan pulang jenguk mamanya tapi indehoyan ama pacarnya. Yah kalo dia bohong sih dosa dia jg.

Jadilah gw resmi maid-less skrg. Gak terbayang sih kejadian ini, sebab gw berharapnya si A ini bisa kerja at least ampe nanti sebelum lebaran atau gak sampe gw cuti deh. Ternyata dia berhenti begitu cepat, disaat gw juga sudah di masa-masa mau lahiran. Jujur gw cukup stress menghadapi situasi ini. Masalah yg datang bertubi-tubi dengan kondisi lagi hamil tua bener-bener ngures tenaga dan pikiran.

Gw berharap semoga situasi ini bisa cepat berlalu. Gw sih gak yakin klo bisa dapet ART dimasa sebelum lebaran ini. Langka kayaknya. Tapi semoga nanti setelah lebaran, gw bisa dapet ART buat ngasuh anak-anak. Klo BS gw belum kepikiran, selain biayanya yg mahal, BS juga jarang yg mau bantu kerjaan rumah. Maklum anak uda dua, klo kudu pake dua BS kayaknya mendingan gw resign, yg ada gaji abis buat bayar BS hehehe..

Mari kita berjuang ya suami.. semoga kita bisa melewati ini dengan baik..